Fadly Alberto Hengga resmi dicoret dari Timnas Indonesia U-20 setelah melepaskan tendangan Kungfu ke pemain lain di Elite Pro Academy (EPA) U-20. Kabar ini dikonfirmasi Ketua Badan Tim Nasional (BTN) Sumardji saat dihubungi akun @futboll.indonesiaa. “Sudah dicoret di Timnas Alberto hengga. Dia pemain kunci Timnas U-20,” kata Sumardji kepada akun @futboll.indonesiaa.
Kekecewaan Manajemen dan Kritik Terhadap Perangkat Pertandingan

Sumardji secara terbuka mengecam tindakan kekerasan yang terjadi dan menganggapnya sebagai noda dalam sportivitas sepak bola. Menurutnya, aksi tendangan tersebut tidak memiliki tempat dalam kompetisi profesional mana pun, terlepas dari apa pun alasannya.
“Apalagi keributan sampai dengan menendang seperti itu. Itu nggak boleh, ya. Saya sebenarnya sangat, benar-benar saya sangat kecewa ya dengan adanya kejadian itu,” ucap Sumardji.
Ia menambahkan bahwa ada rentetan kejadian yang mengawali keributan tersebut, termasuk kinerja wasit yang dinilai kurang cakap. Keputusan wasit yang tidak menganulir gol meski pemain lawan dalam posisi offside menjadi pemantik awal ketegangan di lapangan.
“Dari laporan ya, dan setelah saya lihat di video, diawali dari perangkat pertandingan yang tidak profesional menjalankan tugas. Semestinya, harusnya offside, kelihatan sekali jauh dua pemain di belakang, tapi tidak di-offside dan akhirnya gol,” terangnya.
Meski protes sempat diredam, bara api rupanya belum sepenuhnya padam di hati para pemain. “Itu kan berawal dari situ. Setelah itu terjadi keributan kecil, protes-protes dan bisa diredam,” sambung Sumardji menjelaskan fase awal konflik.
Pengakuan Fadly Alberto Mengenai Dugaan Serangan Rasialis

Sumardji melakukan langkah persuasif dengan menghubungi Fadly Alberto secara langsung untuk mendengar versi sang pemain. Dalam percakapan telepon tersebut, Alberto mengungkapkan alasan emosional di balik tindakannya yang menyerang pemain lawan.
Berdasarkan pengakuan pemain muda tersebut, terdapat teriakan bernada rasialis yang dialamatkan kepadanya dari area bangku cadangan.
“Tetapi menurut Berto, kan saya telpon Berto. Ada dari bench itu teriakan, ‘Berto h**am, Berto m***et’. Nah, di situlah Berto akhirnya naik darah marah dan dia melakukan tendangan itu,” tutur dia.
Ucapan yang sangat sensitif itu diduga kuat menjadi pemicu utama Alberto kehilangan kendali atas emosinya. Meski demikian, manajemen Bhayangkara FC tetap memegang teguh prinsip bahwa kekerasan fisik bukanlah solusi atas provokasi verbal.
“Ya seperti itu. Tapi apapun saya bilang, itu tidak dibenarkan dan itu tidak boleh dilakukan. Ya, itu tidak boleh dilakukan,” sambungnya menegaskan sanksi moral bagi sang pemain.
